Inilah kelanjutan cerita saya jalan-jalan di Candi Muaro Jambi. Kami menyusuri sepanjang jalan setapak yang menghubungkan antar candi. Kebanyakan rutenya di tengah semak-semak pohon bambu dan beberapa kali melewati jembatan kecil dari bambu juga.
Dalam perjalanan sampailah kami di kampung pinggiran sungai Batanghari. Kampung ini begitu tenang, bersih, dan banyak tumbuhan hijau yang ditata rapi. Seperti dalam mimpi, sepertinya saya pernah membayangan tempat seperti ini sebelumnya. Deja vu… Sayangnya saya tidak mengabadikan tempat/desa yang saya maksudkan.
Dengan menjelaskan masalah kanal yang mengelilingi kompleks (kanal peninggalan), Bang Borju mengajak mampir di pinggiran Sungai Batanghari. Di sini dia berorasi mengenai komunitas dia di Jambi, dengan tema go green-nya.
Sungai Batanghari sebagai jalur lalu lintas pada masa itu untuk mengangkut material pembuatan candi.
Beginilah suasana sore yang kami habiskan. Sungguh tak terlupakan.
Senjapun akhirnya menyapa, dan kami harus mengakhiri 1 hari bersama batu-batu kuno di Muaro Jambi. Thanks Bang Borju, thanks juga buat Ayuk yang nyewain sepedanya, thanks buat Syahrain yang membuat suasana lebih abadi, thanks buat shanty,mutia, mabruri, thopan,dan afriza… Terima kasih buat hari yang sangat indah ini.

Dari kiri : Afriza, Meutia, Shanty, Syahrain Muhammad, Thopan, Rha, Si Abang Titisan Dewa (yang jepret Mas Mabruri ui)
Kapan kita jalan lagi prent??























