Wisata Sejarah Jambi, Part II

Inilah kelanjutan cerita saya jalan-jalan di Candi Muaro Jambi. Kami menyusuri sepanjang jalan setapak yang menghubungkan antar candi. Kebanyakan rutenya di tengah semak-semak pohon bambu dan beberapa kali melewati jembatan kecil dari bambu juga.

Bulat-bulat di tengah hutan bambu

Dalam perjalanan sampailah kami di kampung pinggiran sungai Batanghari. Kampung ini begitu tenang, bersih, dan banyak tumbuhan hijau yang ditata rapi. Seperti dalam mimpi, sepertinya saya pernah membayangan tempat seperti ini sebelumnya. Deja vu… Sayangnya saya tidak mengabadikan tempat/desa yang saya maksudkan.

Dengan menjelaskan masalah kanal yang mengelilingi kompleks (kanal peninggalan), Bang Borju mengajak mampir di pinggiran Sungai Batanghari. Di sini dia berorasi mengenai komunitas dia di Jambi, dengan tema go green-nya.

Teriakk : "Aku cinta Bang Borju", eh salah, "...lingkunganku..."

Sungai Batanghari sebagai jalur lalu lintas pada masa itu untuk mengangkut material pembuatan candi.

Antara Afriza, pohon dan, Bang Borju, "Elegi di Batanghari"

Beginilah suasana sore yang kami habiskan. Sungguh tak terlupakan.

Setapak di atas kanal

"Siapa yang paling jelek angkat tangan hayo...!?" *qiqiqi sembunyi bawa sandal*

Senjapun akhirnya menyapa, dan kami harus mengakhiri 1 hari bersama batu-batu kuno di Muaro Jambi. Thanks Bang Borju, thanks juga buat Ayuk yang nyewain sepedanya, thanks buat Syahrain yang membuat suasana lebih abadi, thanks buat shanty,mutia, mabruri, thopan,dan afriza… Terima kasih buat hari yang sangat indah ini.

Dari kiri : Afriza, Meutia, Shanty, Syahrain Muhammad, Thopan, Rha, Si Abang Titisan Dewa (yang jepret Mas Mabruri ui)

Kapan kita jalan lagi prent??

Wisata Sejarah Jambi, Part I

Ini cerita saya waktu masih bekerja di Jambi. Waktu itu weekend saya dan teman-teman kantor berencana untuk muter-muter Kota Jambi. Kota Jambi itu kecil, sehingga sehari saja sudah kelar semua melewati tikungan-tikungan jalanan kota. Karena waktu itu kita blank gak ada tujuan, makanya tiba-tiba muncul ide untuk wisata sejarah. Yang paling bersemangat dalam acara jalan-jalan ini teman saya Thopan. Bermula kita akan melakukan wisata museum. Ternyata pada hari Sabtu (waktu itu) semua museum yang ada di Kota Jambi pada tutup. Heran juga, kenapa pada saat weekend gini museum pada tutup, apa jam kerjanya ngikutin jam kerja PNS yah. Hedewwhhh begitu!

Untung ada second plan untuk jalan-jalan ke Candi Muaro Jambi. Jadinya nggak garing-garing banget. Ternyata masih aja ribet, karena kami masih doyan-doyannya makan, haha malah ribet sendiri nyari bontotan. Saat matahari sudah di atas ubun-ubun barulah kami berangkat.

Perjalanan hingga menuju candi kurang lebih 45 menit dari pusat kota (WTC Mall) dengan suasana penuh keceriaan dan canda tawa. Pokoknya seneng banget deh.

Sepanjang perjalanan mendekati lokasi, terlihat banyak banget orang jualan durian. Jadi inget kampung halaman, bedanya di kampungku banyak kios-kios salak pondoh. Dan sayangnya lagi saya tidak suka durian, hehe…

Awas makk ketiban durian

Dan akhirnya sampai juga. Biaya tiket masuk perorang Rp5.ooo (waktu itu) belum termasuk angkos parkir mobil. Tempat parkir mobil dengan kawasan candi kurang lebih 100 m. Begini kami jalan dari tempat parkir mobil menuju area candi.

Jalannya Nenek Moyang Kami

Sebelum napak tilas, urusan perut tetap nomor 1

Kumpul nggak kumpul asal makan

Masih di pingiran danau

Bobok-bobok dulu

Karena candi muaro jambi ini sangat luas, dan letak bangunan candinya saling berjauhan, maka kami berencana untuk sewa sepeda ontel. Teman kami Syahrain yang sudah kami anggap sebagai PPM (Preman Pemuda Jambi) haha ternyata juga gak yakin dia ngerti lokasi-lokasinya. Yah daripada kita nyasar ke hutan, well kita memutuskan untuk menyewa guide. Setelah negosiasi yang lama antara PPM dan penyedia ontel & guide, akhirnya kita menculik Bang Borju (bukan Boros Juga lohh…). Ni dia orangnya.

Dari kiri : PPM kita, Bang Borju, Mas Mab

Bersiap-siap mbolang

Bang Borju in action

Jangan bayangkan candi di sini sama dengan candi-candi di Jawa, hehe beda banget. Sebagian besar situs candi di sini merupakan tumpukan-tumpukan batu yang gak jelas atau merupakan bangunan yang masih belum jadi. Bang Borju bilang baru beberapa situs aja yang berhasil ditemukan (di gali) kemudian dilakukan pemugaran. Berikut beberapa situs candi yang kami kunjungi.

Lanjutan kami jalan-jalan akan disambung di Part II yakk… *tata*

3R

3R di sini bukan ukuran foto loh, tapi nama kami bertiga (saya dan adek-adek). Saya belum tau pasti apa motivasi bapak-ibuku dulu kasih nama dengan awalan R. Padahal huruf R menurut saya susah dilafalkan.

Dari 3 bersaudara, saya adalah anak pertama. Selisih umur kami lumayan jauh. Mungkin pertimbangan orang tua waktu itu biar kalo adik bayi lahir si kakak udah bisa bantuin cuci popok :-D Dulu waktu bayi mereka sangat lucu-lucu dan beberapa kali saya jatuhin. Dan saking gemesnya pernah saya cubit. Alhasil bayi yang tanpa dosa itu menangis, dan saya yang banyak dosa dimarahi sama ibu. *he3..*

Seriring berjalannya hidup, nggak banyak waktu yang bisa ku habiskan langsung dengan mereka. Ketika pulang kampung saja ketemunya. Meski komunikasi dengan telpon terus jalan, tapi rasanya beda aja. Bertatap muka adalah segalanya. Harapan sebagai kakak, kedepannya mereka berdua harus lebih sukses dari saya. Inilah mereka yang saya banggakan:

Recta Tidar Wiguna (Recta)

Adik pertama saya ini sekarang kelas 2 di SMAN 3 Lumajang. Hobinya renang dan gitaran. Dia yang paling humoris di rumah. Gayanya kocak banget dan agak alay layaknya ababil yang seusianya, dan nggak nyangka dia begitu gagah saat ikut paskibra.

Paskibra Kabupaten Lumajang - 2011

Nama dia di FB aja Recta The “Metal Electric” Man… Setelah saya tanya nama apa itu. Jawabnya hanya yang penting keren aja.

Risqika Yanuar Maqfiro (Riski)

Adik saya yang terakhir ini anaknya sangat rajin membantu. Apalagi berhubungan dengan kebun dan pertukangan. Haha… Dia yang sangat bersemangat kalau ikut bapak ke kebun atau sekedar mencarikan daun lumbu buat makan ikan di kolam. Dan dia sangat antusias sekali ketika membuat kandang ayam atau membuat bangku-bangku kayu. Itulah Riski yang hobinya menggambar. Setiap ada kertas A4 di rumah, nggak tahan lama kertas itu dibiarkan kosong. Beberapa menit kemudian pasti ada coretan berbentuk mobil dan onderdilnya, motor, alat berat, diesel, dengan gambaran yang sangat detail sampai merk mesinnya juga. Tapi kalau menggambar rumah, pemandangan, buah, bunga, haha dia hanya berpuas mendapat nilai 70 di sekolahnya.

Untuk ukuran anak kelas 4 SD dia sudah lumayan mandiri. Begitulah orang tua kami mendidik kami, dimana kelas 4 SD sudah harus diberi tanggang jawab minimal untuk dirinya sendiri misalnya cuci sepatu dan kaos kaki, cuci tas, cuci topi, setrika bajunya sendiri, dan bahkan diajari gimana caranya goreng telur mata sapi.

Riski ini mempunyai pose tidur yang aneh seperti ini

Kalo Nggak Tidur Cakep Anaknya

Dan ternyata di lain waktu dia masih tidur dengan pose yang sama

Tidur di Mobil

Sewaktu dia buka-buka foto-foto ini di HP saya, mungkin dia ngerasa kok jelek banget. Akhirnya dia dengan sadar mencoba mencari gaya tidur yang lain. Mungkin beginilah yang dia harapkan sebenarnya

Cuman Pura-pura

Well, begitulah sekilas adik-adikku yang keonarannya membuat suasana rumah semakin hidup. Mereka yang sangat aku sayangi.

Berangkat Sholat Ied

Pedagang Terminalan

Pedagang

Kartun Pedagang

Sebenarnya saya kurang suka perjalanan darat pake bus ekonomi, bukan karena sok gitu, tapi saya nggak begitu suka lihat orang ribet-ribet plus rame-rame seperti pedagang terminalan yang suka heboh sendiri maksa untuk beli dagangannya. Belum lagi kalo pas untung bareng sama tengkulak sayur dan pengepul binatang… gado-gado sekali baunya. Gak lama saya pasti mabok darat tiada tara.

Seperti minggu lalu saya ada acara di Probolinggo. Karena ada janjian ketemu sama orang habis dhuhur, maka saya berangkat dari Malang sengaja pagi-pagi buta. Memang saya sudah berencana untuk naik bus patass aja, eee kok ya ndilalah ada bis patas jurusan Malang-Jember lewat Probolinggo masih kosong bolong. Alamat nih bis berangkatnya bakal siang banget. Yasuds mau nggak mau saya ganti bis ekonomi aja dan berharap semoga tidak mabok.

Benar, tak lama saya duduk ada pedagang terminalan yang menghampiri, mulai menjajakan koran, minuman, permen, krupuk, apel, dll. Karena yang dituju cewek, pasti ada yang nawarin tisu, bahkan gincu *hedewwhh*. Saya nggak sukanya kalo udah bilang “nggak mas, nggak beli” “mboten pak” atau sekedar member isyarat tangan penginku itu ya sudah toh, cari sasaran lain saja apalagi melihat raut mukaku yang sedikit malas, harusnya udah taulah itu. Nah yang ini, dibilang tisu enggak, permen enggak, dan enggak enggak yg lain,, eh masih aja meng-absen semua barang yg dia bawa untuk ditawarkan. Huaaa tidak pak… bahkan kalo tidak distop, sandal yang dia pake pasti juga ikut diabsen. Hi3 kabur pak…

Lain di terminal Arjosari lain pula di terminal Probolinggo. Karena saya harus ganti bis jurusan Situbondo, maka saya dengan sabar menunggu Pak Sopir memberangkatkan bis nya. Sama saja, pedagang kaki 2 ada di mana-mana. Menurut saya di sini lebih kenceng-kenceng suaranya disamping menggunakan bahasa yang sedikit horor (Bahasa Madura yang tidak saya mengerti), dagangan yang dijajakan juga bervariasi dan lebih merakyat. Mungkin di sesuaiakan karena terminal ini sebagai penghubung pedalaman-pedalaman daerah-daerah di kawasan timur. Waktu itu saya sedang asyik melihat-lihat ramainya terminal dari dalam bis. Ada pedagang yang datang dan saya pura-pura nggak tau. Bener aja si emak ini mulai menawarkan “tisu mbak..” “permen” “krupuk” “aqua” dan saya hanya menggeleng aja tanpa menoleh sedikitpun. Si emak ini tetep aja ngeyel “nasi mbak…” [loh yah ada yang beda, pikir saya], lagi-lagi saya menggeleng “krupuk ae mbak ya..” “kakap ta…” “telur puyuh…” “tengiri mbak…” ”udang…” waksss…. Dalam hati pengin ketawa sambil mikir jangan-jangan emak ini juga nelayan… “manisan mbak, pencit, dondong…” “pete mbak” spontan saya langsung menoleh… wotss… pete… bener aja si emak ini di tangan kanan membawa barang dagangan yang tergolong barang-barang normal, di tangan satunya membawa segebog pete. Jangan-jangan di balik pete ada tomat, cabai, kangakung, bayam, paha ayah, he3 ini namanya pasar keliling mak mungkin kerennya bisa dibilang pedangang serba ada. Dengan halus dan senyum penuh makna “mboten buu…” karena males aja beli-beli di terminal. Ketawa aja lihatnya, hmmm ada aja yah ide mereka untuk jualan. Ingin tampil beda dari dagangan orang-orang lainnya [good..!]

Saya lebih kagum dengan orang seperti itu, dari pada orang jualan hanya pengin untung gede tetapi dia tipu sana-sini agar dagannya laku tanpa memperhatikan kepuasan bahkan mungkin bisa keselamatan pembelinya. Masih di seputar terminal bis, di Gadang. Waktu saya mau pulang ke Lumajang, karena agak keroncongan saya beli tahu di pedagang terminalan. Udah terlanjur saya gigit, ternyata tahunya busuk. Hmm saya benar-benar kecewa. Maka dari itu guys, jangan jajan sembarangan, apalagi di tempat seperti TERMINAL BIS!

Rasa yang Tertinggal

1 tahun 1 bulan aku menghabiskan waktu di Jambi. Ingat betul waktu diantar ayah hingga mendaratkan kaki di Bandara Sultan Thaha. Dan inilah oksigen pertama yang ku hirup di pulau Sumatera. Jambi, tidak terlalu asing kedengarannya di telingaku, karena sebelum aku ke sana ada keluarga kakekku yang pindah dan menetap di sana, hingga perbincangan kami di rumah sering mengucap kata Jambi.

Jambi juga tidak seseram yang aku pikirkan. Banyak orang Jawa di sini sehingga sangat cepat untuk beradaptasi di lingkungan, terlebih lagi di kantor yang mayoritas orang Jawa. 2 orang temen kontrakan yang aku sayangi, 2 orang bapak yang sangat ku hormati, teman-teman seperjuangan, Ayuk Depan yang sangat aku andalkan ketika perut mendadak keroncongan dan seorang Jambi yang bisa membuatku tertawa lepas di sela-sela kepenatan kerja, teman tertawaku, sahabatku.

Hingga akhirnya 1 tahun 1 bulan dari perjalanan itu aku membuat keputusan yang mungkin hanya sedikit orang yang berani melakukannya jika berada di posisiku. Aku lebih tergoda manisnya salak pondoh daripada mahalnya kepala sawit *he3*.

Haripun tiba ketika aku harus meninggalkan semuanya, isakan tangis, untaian doa, iringan nasehat, dan harapan yang lebih baik aku kemas jadi satu dan ku bawa terbang pulang. Mungkin suatu saat aku ingin berkunjung ke sini lagi.

Saat posting tulisan ini aku tinggal di Kota Malang. Tapi entah kenapa aku merasa jauh di sana. Di tempat yang pernah aku tinggal setahun yang lalu. Aku terawang ke belakang, semuanya melekat, dekat, tersusun rapi, persis seperti waktu itu.

Aku ingin menyapa kenangan-kenangan itu. Tiba-tiba message tone ku berbunyi, sebuah pesan singkat dari kota itu…

channn.. aku lagi makan bakpao di tempat yang dulu chan hehe…

[kawan, aku bisa merasakannya]

Dan dengan sadar aku menyapa seorang bapak yang tiba-tiba melintas diingatan, yang sangat aku hormati, bapakku…

Rha : “Askm. Pak gimana kabarnya? Bpak sehat kan…? Selamat Idul Adha ya pak 

[ahh akhirnya ada balasan,]

Bapak : ”Wa’alaikum salam wr. wb. Alhamdulillah sehat aja lah… Sama mba met Idul Adha…

Rha : “… bapak,saya lagi kangen jambi…

[teringat betul 2 minggu sebelum pulang harus berjuang melawan demam berdarah di RS DKT]

Bapak : “Hah… aneh juga… Napa Nduk? Ato ada yang ketinggalan ya”

Rha : “Perasaannya masih ada yang ketinggalan dsana pak. He2… kangen aja tiba2

Bapak : “Hehehe… Sok atuh k sini biar g penasaran

[sudah sedikit terobati]