Pedagang Terminalan

Pedagang

Kartun Pedagang

Sebenarnya saya kurang suka perjalanan darat pake bus ekonomi, bukan karena sok gitu, tapi saya nggak begitu suka lihat orang ribet-ribet plus rame-rame seperti pedagang terminalan yang suka heboh sendiri maksa untuk beli dagangannya. Belum lagi kalo pas untung bareng sama tengkulak sayur dan pengepul binatang… gado-gado sekali baunya. Gak lama saya pasti mabok darat tiada tara.

Seperti minggu lalu saya ada acara di Probolinggo. Karena ada janjian ketemu sama orang habis dhuhur, maka saya berangkat dari Malang sengaja pagi-pagi buta. Memang saya sudah berencana untuk naik bus patass aja, eee kok ya ndilalah ada bis patas jurusan Malang-Jember lewat Probolinggo masih kosong bolong. Alamat nih bis berangkatnya bakal siang banget. Yasuds mau nggak mau saya ganti bis ekonomi aja dan berharap semoga tidak mabok.

Benar, tak lama saya duduk ada pedagang terminalan yang menghampiri, mulai menjajakan koran, minuman, permen, krupuk, apel, dll. Karena yang dituju cewek, pasti ada yang nawarin tisu, bahkan gincu *hedewwhh*. Saya nggak sukanya kalo udah bilang “nggak mas, nggak beli” “mboten pak” atau sekedar member isyarat tangan penginku itu ya sudah toh, cari sasaran lain saja apalagi melihat raut mukaku yang sedikit malas, harusnya udah taulah itu. Nah yang ini, dibilang tisu enggak, permen enggak, dan enggak enggak yg lain,, eh masih aja meng-absen semua barang yg dia bawa untuk ditawarkan. Huaaa tidak pak… bahkan kalo tidak distop, sandal yang dia pake pasti juga ikut diabsen. Hi3 kabur pak…

Lain di terminal Arjosari lain pula di terminal Probolinggo. Karena saya harus ganti bis jurusan Situbondo, maka saya dengan sabar menunggu Pak Sopir memberangkatkan bis nya. Sama saja, pedagang kaki 2 ada di mana-mana. Menurut saya di sini lebih kenceng-kenceng suaranya disamping menggunakan bahasa yang sedikit horor (Bahasa Madura yang tidak saya mengerti), dagangan yang dijajakan juga bervariasi dan lebih merakyat. Mungkin di sesuaiakan karena terminal ini sebagai penghubung pedalaman-pedalaman daerah-daerah di kawasan timur. Waktu itu saya sedang asyik melihat-lihat ramainya terminal dari dalam bis. Ada pedagang yang datang dan saya pura-pura nggak tau. Bener aja si emak ini mulai menawarkan “tisu mbak..” “permen” “krupuk” “aqua” dan saya hanya menggeleng aja tanpa menoleh sedikitpun. Si emak ini tetep aja ngeyel “nasi mbak…” [loh yah ada yang beda, pikir saya], lagi-lagi saya menggeleng “krupuk ae mbak ya..” “kakap ta…” “telur puyuh…” “tengiri mbak…” ”udang…” waksss…. Dalam hati pengin ketawa sambil mikir jangan-jangan emak ini juga nelayan… “manisan mbak, pencit, dondong…” “pete mbak” spontan saya langsung menoleh… wotss… pete… bener aja si emak ini di tangan kanan membawa barang dagangan yang tergolong barang-barang normal, di tangan satunya membawa segebog pete. Jangan-jangan di balik pete ada tomat, cabai, kangakung, bayam, paha ayah, he3 ini namanya pasar keliling mak mungkin kerennya bisa dibilang pedangang serba ada. Dengan halus dan senyum penuh makna “mboten buu…” karena males aja beli-beli di terminal. Ketawa aja lihatnya, hmmm ada aja yah ide mereka untuk jualan. Ingin tampil beda dari dagangan orang-orang lainnya [good..!]

Saya lebih kagum dengan orang seperti itu, dari pada orang jualan hanya pengin untung gede tetapi dia tipu sana-sini agar dagannya laku tanpa memperhatikan kepuasan bahkan mungkin bisa keselamatan pembelinya. Masih di seputar terminal bis, di Gadang. Waktu saya mau pulang ke Lumajang, karena agak keroncongan saya beli tahu di pedagang terminalan. Udah terlanjur saya gigit, ternyata tahunya busuk. Hmm saya benar-benar kecewa. Maka dari itu guys, jangan jajan sembarangan, apalagi di tempat seperti TERMINAL BIS!

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s