Ini cerita saya waktu masih bekerja di Jambi. Waktu itu weekend saya dan teman-teman kantor berencana untuk muter-muter Kota Jambi. Kota Jambi itu kecil, sehingga sehari saja sudah kelar semua melewati tikungan-tikungan jalanan kota. Karena waktu itu kita blank gak ada tujuan, makanya tiba-tiba muncul ide untuk wisata sejarah. Yang paling bersemangat dalam acara jalan-jalan ini teman saya Thopan. Bermula kita akan melakukan wisata museum. Ternyata pada hari Sabtu (waktu itu) semua museum yang ada di Kota Jambi pada tutup. Heran juga, kenapa pada saat weekend gini museum pada tutup, apa jam kerjanya ngikutin jam kerja PNS yah. Hedewwhhh begitu!
Untung ada second plan untuk jalan-jalan ke Candi Muaro Jambi. Jadinya nggak garing-garing banget. Ternyata masih aja ribet, karena kami masih doyan-doyannya makan, haha malah ribet sendiri nyari bontotan. Saat matahari sudah di atas ubun-ubun barulah kami berangkat.
Perjalanan hingga menuju candi kurang lebih 45 menit dari pusat kota (WTC Mall) dengan suasana penuh keceriaan dan canda tawa. Pokoknya seneng banget deh.
Sepanjang perjalanan mendekati lokasi, terlihat banyak banget orang jualan durian. Jadi inget kampung halaman, bedanya di kampungku banyak kios-kios salak pondoh. Dan sayangnya lagi saya tidak suka durian, hehe…
Dan akhirnya sampai juga. Biaya tiket masuk perorang Rp5.ooo (waktu itu) belum termasuk angkos parkir mobil. Tempat parkir mobil dengan kawasan candi kurang lebih 100 m. Begini kami jalan dari tempat parkir mobil menuju area candi.
Sebelum napak tilas, urusan perut tetap nomor 1
Masih di pingiran danau
Karena candi muaro jambi ini sangat luas, dan letak bangunan candinya saling berjauhan, maka kami berencana untuk sewa sepeda ontel. Teman kami Syahrain yang sudah kami anggap sebagai PPM (Preman Pemuda Jambi) haha ternyata juga gak yakin dia ngerti lokasi-lokasinya. Yah daripada kita nyasar ke hutan, well kita memutuskan untuk menyewa guide. Setelah negosiasi yang lama antara PPM dan penyedia ontel & guide, akhirnya kita menculik Bang Borju (bukan Boros Juga lohh…). Ni dia orangnya.
Jangan bayangkan candi di sini sama dengan candi-candi di Jawa, hehe beda banget. Sebagian besar situs candi di sini merupakan tumpukan-tumpukan batu yang gak jelas atau merupakan bangunan yang masih belum jadi. Bang Borju bilang baru beberapa situs aja yang berhasil ditemukan (di gali) kemudian dilakukan pemugaran. Berikut beberapa situs candi yang kami kunjungi.





Lanjutan kami jalan-jalan akan disambung di Part II yakk… *tata*






