Kabar Dari Jauh

12 05 2008

Ku teringat Jogja, ku teringat Bukit Menoreh, ada saudaraku di sana. Menjadi salah satu penghuni bukit tandus itu. Sebagai orang-orang ladang yang bekerja keras dengan rutinitas pikulan cangkul di pagi hari. Berjalan kaki menyusuri bukit, dan pulang saat senja tiba. Semua itu demi dapur agar tetap mengepul. Walaupun hasil panenan tidak seberapa, tapi selalu ada uang yang tersisih untuk membiayai putri satu-satunya hingga tamat SMA. Pikirnya, biar sang anak tidak bernasip sama dengan Bapaknya. Sungguh hidup yang sangat sederhana kurasa.

Ku teringat keramahan mereka dalam sebuah rumah joglo tua, rasanya ku ingin melelehkan air mata. Ada sesal di hati ini.
Awal ceritanya di tanggal 4 Mei 2008 saat aku sedang liburan di rumah. Entah kenapa ku selalu ingin membahas kabar saudaraku di jogja ini. Sebut saja Mbah Wakidi. Mulai kabar mereka, Mbak Ira (putrinya), dan semua kenangan-kenangan waktu main ke sana. Nenekku semangat sekali bercerita, karena perjalanan hidupnya berawal di sana.

Rindu seperti ini munkin sedang dirasakan oleh mereka di sana. Tak lama kemudian HP ibuku berdering. “Mbak Ira”!! Sepertinya di sana sedang berkumpul banyak orang yang ingin mendengar kabar “baik” dari keluargaku, karena terdengar ibuku menyapa beberapa orang yang berbeda. Ku terdiam, tertegun, tak pernah lepas memandang gerak bibir dan mimik ibuku. Menerka-nerka apa yang sedang mereka bicarakan. Ku ikut tersenyum saat ibuku tersenyum, walau tidak tahu kabar apa yang membuat dia tersenyum. Beberapa menit kemudian senyuman itu berubah menjadi raut muka yang tegang, terkejut. Apalagi saat ibuku bilang
“Dalem..??” (apa?)
“Saestu toh..??” (benar tah?)
“Sedanten engkang mriko..??” (semua yang ke sana?)
“Panjenengan kalihan Lik Sar ugi..??” (dan Lik Sar juga?)
“Lajeng dalemipun dospundi..??” (lalu rumahnya bagimana?)
“Wah Pak Lik, mangkih menawi kulo dateng Jogja njujug pundi…” (Wah paman, nanti kalau saya ke jogja singgah di mana?)
Sementara itu butiran bening jatuh di sudut mata ibuk. Kali ini aku menebak kalau ada seseorang yang sedang pamit.. Mbah Wakidi, Mbah Sar, Mbak Ira…. mau kemana?? Baca entri selengkapnya »